Danau Toba Sumatera, Indonesia disebu-sebut sebagai danau terbesar se-Asia Tenggara sekaligus sebagai danau terdalam di dunia. Danau terindah di Indonesia ini berada di ketinggian 900 mdlp, luasnya mencapai 1.145 kilometer persegi dengan kedalaman 450 meter.
Di tengah danau terbesar di Asia Tenggara ini terdapat sebuah pulau bernama Pulau Samosir. Di pulau Samosir juga terdapat dua buah danau cantik, yakni Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang.
Pulau Samosir merupakan tempat tinggal Suku Batak Samosir yang hingga kini masih memegang teguh adat leluhur dan masih menjalankan berbagai ritual yang dilakukan oleh nenek moyang dahulu.
Tempat wisata di Pulau Samosir yang sering dikunjungi wisatawan adalah Desa Tomok. Di desa Tomok terdapat objek wisata menarik seperti Danau Sidihoni, Makam Raja Sidabutar, Museum Batak dan petunjukan tari boneka Sigale,gale yang populer.
Sejarah Danau Toba
Diperkirakan Danau Toba terbentuk saat ledakan sekitar 69.000-77.000 tahun yang lalu[9][3][10] dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang withering baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa jumlah all out material pada letusan sekitar 2.800 km3 - sekitar 2.000 km3 dari Ignimbrit yang mengalir di atas tanah, dan sekitar 800 km3 yang jatuh sebagai abu terutama ke barat. Aliran piroklastik dari letusan menghancurkan territory seluas 20.000 km2, dengan deposito abu setebal 600 m dengan kawah utama.
Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan kepunahan pada beberapa spesies makhluk hidup. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya. Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.
Selama tujuh tahun, para ahli dari universitas Oxford tersebut meneliti proyek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.
Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu.


Belum ada tanggapan untuk "Danau Toba Sumatera Utara"
Post a Comment